psikologi cinderamata
mengapa kita merasa perlu membeli benda fisik untuk mengikat memori
Pernahkah kita menatap nanar koper yang mendadak tidak bisa ditutup di malam terakhir liburan? Padahal saat berangkat, koper itu masih menyisakan banyak ruang. Lalu kita sadar, ruang kosong itu kini dibajak oleh sepuluh gantungan kunci, lima magnet kulkas, dan dua kaos bertuliskan "I Love Bali" yang kemungkinan besar hanya akan berakhir menjadi baju tidur. Mengapa kita selalu melakukan ini? Mengapa kita merasa punya semacam kewajiban moral untuk memborong benda-benda fisik ini sebelum pulang? Mari kita duduk sebentar dan membedah apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita saat berhadapan dengan rak suvenir.
Rasanya mudah sekali menyalahkan kapitalisme atau strategi promosi toko oleh-oleh. Apalagi posisinya selalu diletakkan secara strategis tepat di depan pintu keluar tempat wisata. Tapi, mari kita mundur sejenak ke abad pertengahan. Ratusan tahun lalu, para peziarah rela menempuh perjalanan berbahaya berbulan-bulan melintasi benua Eropa. Tahukah teman-teman apa yang mereka lakukan sebelum pulang? Mereka membeli ampullae. Ini adalah semacam botol timah kecil berisi air, minyak, atau debu dari tempat suci tersebut. Sejarah mencatat bahwa hasrat untuk membawa pulang "potongan" dari sebuah tempat wisata bukanlah penemuan modern. Ini adalah dorongan primitif yang tertanam sangat kuat dalam DNA manusia. Pertanyaannya, dorongan apa sebenarnya yang sedang berusaha kita puaskan?
Di era digital yang serba canggih ini, logika kita sebenarnya sudah sering melayangkan protes. Kita punya kamera smartphone dengan resolusi tinggi di saku kita. Kita bisa merekam setiap detik perjalanan dalam bentuk video resolusi 4K. Secara rasional, memori liburan kita sudah terdokumentasi dengan sangat sempurna. Namun, mengapa sekumpulan piksel di layar ponsel seringkali terasa tidak cukup? Lebih anehnya lagi, mengapa kita rela mengeluarkan uang untuk membeli miniatur Menara Eiffel atau patung kecil Candi Borobudur? Padahal kita tahu persis benda itu diproduksi secara massal di pabrik yang letaknya mungkin ribuan kilometer dari tempat wisata aslinya. Ada sebuah teka-teki psikologis di sini. Otak kita seolah menyadari bahwa ada sesuatu yang menguap jika kita hanya mengandalkan ingatan atau layar kaca. Sesuatu yang menuntut untuk disentuh oleh tangan.
Mari kita berkenalan dengan sebuah konsep psikologi yang disebut psychological essentialism. Seorang profesor psikologi kognitif bernama Paul Bloom menjelaskan bahwa manusia secara alami cenderung percaya bahwa sebuah benda fisik mampu menyerap "esensi" atau nyawa dari sejarah dan asal-usulnya. Saat kita membeli batu koral dari pantai atau gelang tenun dari pasar tradisional, otak kita tidak melihat benda itu sebagai sekadar materi. Otak kita menganggap benda itu telah "terkontaminasi" oleh keajaiban dan suasana tempat tersebut. Di sinilah neuroscience ikut mengambil peran. Ingatan manusia itu pada dasarnya rapuh dan mudah pudar. Bagian otak kita yang memproses memori spasial dan naratif, yaitu hippocampus, bekerja sangat erat dengan input sensorik fisik kita. Benda fisik berfungsi sebagai jangkar memori. Saat kita meraba magnet kulkas yang sudah pudar warnanya lima tahun kemudian, wujud fisik dan teksturnya mengirimkan sinyal elektrik instan ke otak. Sinyal ini membongkar kembali laci ingatan yang mulai berdebu, menghidupkan lagi suara ombak atau aroma udara di tempat itu. Sebenarnya kita tidak sedang membeli barang, teman-teman. Kita sedang membeli asuransi untuk ingatan kita sendiri.
Menyadari fakta ilmiah ini membuat saya merasa jauh lebih berempati pada diri kita sendiri. Hasrat untuk membeli cinderamata ternyata bukanlah sekadar sifat konsumtif yang dangkal. Itu adalah bukti nyata betapa kita sangat menghargai momen dalam hidup kita, dan betapa takutnya kita kehilangan memori indah tersebut karena gerusan waktu. Namun, pemahaman ini juga seharusnya memberi kita sedikit kebebasan. Karena kita tahu bahwa benda itu hanyalah sekadar "kunci" pembuka memori, kita mungkin tidak perlu lagi memborong setengah isi toko. Satu atau dua benda kecil yang benar-benar bermakna sudah sangat cukup untuk menjadi saksi bisu perjalanan kita. Jadi, lain kali teman-teman berdiri di depan rak suvenir dengan dompet di tangan, tersenyumlah. Sadari bahwa kita hanya sedang berusaha menjebak waktu ke dalam sebuah benda mati. Pilihlah satu yang paling beresonansi, bawa pulang, dan biarkan benda kecil itu menceritakan kisah petualangan kita untuk bertahun-tahun yang akan datang.